Pendidikan 04 Mei 2026 Oleh: Redaksi

Nyali Singapura, Poin Sabilillah


IDEA JATIM, MALANG – ​Lorong-lorong Westwood Primary School di Singapura itu biasanya tenang. Teratur. Tapi hari itu, suasananya beda. Ada keriuhan yang tak biasa. Suara anak-anak terdengar saling menyapa. Fasih. Menggunakan bahasa Inggris.

​Mereka bukan anak-anak Temasek. Bukan pula warga Jurong. Mereka adalah rombongan kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang 1. Sedang menjalani program International Exposure 2026.

​Dulu, program ini namanya mentereng: Immersion. Kini berganti baju. Lebih menantang. Kalau dulu hanya “main” ke Malaysia, tahun ini Singapura disikat juga. Targetnya jelas: nyali. Diuji di negara yang efisiensinya setinggi langit.

​Waka Kesiswaan dan Humas SD Islam Sabilillah Malang 1, Devika Meiriza, S.Pd., punya alasan kuat. “Kami ingin mereka merasakan langsung. Bahasa Inggris bukan sekadar mata pelajaran. Tapi alat bertahan hidup,” ujarnya. Di Singapura, kalau tidak bicara Inggris, bisa-bisa tidak bisa makan. Atau tersesat.

​Maka, diciptakanlah “Permainan Poin”.
​Ini jenius. Setiap siswa modalnya 100 poin. Kalau mereka berani menyapa orang asing pakai bahasa Inggris, poin naik. Kalau ketahuan ngerumpi pakai bahasa Indonesia di area wajib Inggris? Poin dipangkas. Kejam? Tidak. Ini cara paling efektif menghancurkan rasa malu.

​Hasilnya luar biasa. Anak-anak Malang itu tidak lagi malu-malu kucing. Mereka justru berlomba. Menjadi kompetitif. “Awalnya ada yang malu, tapi gara-gara tantangan poin, mereka jadi sangat berani menyapa orang baru,” kata Devika.

​Puncaknya saat sit-in. Di Westwood Singapura dan Cempaka School Malaysia, setiap siswa Sabilillah diberi satu “partner” lokal. Mereka duduk satu bangku. Makan siang bareng. Berdiskusi bareng. Sekat budaya hancur oleh gelak tawa.

​Aullyah Saffyah Pramudita, salah satu siswa, matanya berbinar. Ini pengalaman pertamanya ke luar negeri. Langsung jadi duta budaya. Dia menampilkan seni tari tradisional Nusantara. Ditampilkan di panggung internasional. ​“Bangga sekali bisa menampilkan budaya Tanah Air di luar negeri,” kata Aullyah.

​Revvy Fakhri Hakim juga sama. Dia merasa lebih mandiri. Lebih percaya diri. “Menyenangkan sekali. Semua lancar,” tuturnya.

​Tentu ada drama di kegiatan ini. Antrean imigrasi Johor-Singapura itu panjangnya minta ampun. Menguji fisik. Menguras emosi. Tapi di situlah pelajaran kedisiplinan dan manajemen waktu benar-benar meresap ke sumsum tulang mereka.

​Siswa-siswa ini pulang bukan membawa oleh-oleh cokelat semata. Mereka membawa mentalitas baru. Mentalitas global. Mereka sadar: dunia itu luas, tapi mereka punya kunci untuk membukanya. Kunci itu bernama keberanian.

​Hebat anak-anak Malang ini. Singapura sudah mereka “taklukkan”. Besok, mungkin dunia. (*)