IDEAJATIM.ID, MALANG – Morula IVF Surabaya terus memperluas edukasi terkait layanan fertilitas terpadu kepada masyarakat Malang Raya. Dalam rangka memperingati ulang tahunnya ke-28, Morula IVF menggelar kegiatan Goes To Malang di Hotel Savana Kota Malang, Minggu (24/5), untuk mengenalkan program bayi tabung dengan dukungan teknologi modern.
Dokter spesialis kandungan dan fertilitas Morula IVF Surabaya, Budi Santoso mengatakan, angka infertilitas di wilayah Malang Raya cukup tinggi. Berdasarkan data pasangan usia subur yang mencapai sekitar 450 ribu pasangan, diperkirakan ada sekitar 22 ribu hingga 36 ribu pasangan yang membutuhkan bantuan penanganan kesuburan.
“Kami hadir di Malang untuk memberikan solusi bagaimana menangani masalah kesuburan. Penanganannya bertahap, mulai pengaturan jadwal hubungan suami istri, obat-obatan, laparoskopi, inseminasi hingga bayi tabung,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Morula IVF juga memperkenalkan teknologi Pre-Implantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A) dan Pre Implantation Genetic Testing for Monogenic (PGT-M) yang digunakan untuk mendukung keberhasilan program bayi tabung.
Sementara itu, dokter spesialis kandungan dan fertilitas Morula IVF Surabaya, Benediktus Arifin menjelaskan, ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kesuburan pasangan suami istri. Mulai dari gaya hidup, nutrisi hingga pertimbangan ekonomi yang membuat sebagian pasangan menunda memiliki anak.
“Semakin bertambah usia pria maupun wanita, maka tingkat fertilitasnya juga menurun. Karena itu kami memberikan banyak opsi penanganan, salah satunya program bayi tabung dengan teknologi yang tidak kalah dengan luar negeri,” terangnya.
Ia menambahkan, angka Total Fertility Rate (TFR) di Malang berada di kisaran 1,8 hingga 1,9. Kondisi itu menunjukkan jumlah pasangan yang memiliki satu anak kini lebih banyak dibanding pasangan yang memiliki dua anak atau lebih.
Salah satu peserta asal Kepanjen Kabupaten Malang mengaku mengikuti kegiatan tersebut setelah mendapatkan informasi melalui media sosial dan rekomendasi dokter. Ia bersama istrinya telah menikah selama sembilan tahun dan terus mencari informasi terkait program bayi tabung.
“Awalnya tahu dari Facebook lalu datang untuk memperjelas program bayi tabung. Sudah sembilan tahun menikah dan mencari informasi ke mana-mana,” ungkapnya. (*)





