IDEA JATIM, MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) kembali membuktikan komitmennya sebagai “kawah candradimuka” bagi calon pemimpin masa depan. Melalui gelaran Kuliah Kebangsaan 2026 bertajuk “Berani Berinovasi, Berani Memimpin”, ribuan mahasiswa diajak untuk bertransformasi dari sekadar penonton menjadi penggerak utama perubahan di tengah derasnya arus disrupsi global.
Acara yang dihelat di Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) A20 ini berlangsung semarak dan penuh dialektika. Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., memberikan pesan kuat bahwa nasionalisme di abad ke-21 harus berwajah baru: bukan sekadar romantis sejarah, melainkan penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
IPTEK Sebagai Napas Baru Kebangsaan
Dalam pidato kuncinya, Prof. Hariyono menegaskan bahwa kebangsaan adalah konsep dinamis yang menuntut pembuktian nyata.
“Para pendiri bangsa merintis negeri ini dengan pengetahuan. Maka, untuk membangun bangsa yang maju, penguasaan IPTEK menjadi kunci utamanya. Persatuan tanpa kreativitas hanya akan membuat kita jalan di tempat,” tegasnya di hadapan ribuan pasang mata mahasiswa.
Beliau juga menggarisbawahi bahwa pemimpin masa depan wajib memiliki paket lengkap: keberanian fisik, integritas moral, dan kecerdasan dalam membawa perubahan.
Sejalan dengan visi tersebut, Direktur Kemahasiswaan dan Alumni UM, Prof. Dr. Eng. Siti Sendari, S.T., M.T., menjelaskan bahwa kuliah ini sengaja dirancang secara lintas disiplin. Tujuannya agar mahasiswa mampu berpikir out of the box.
“Kuliah kebangsaan ini adalah ruang strategis untuk memperluas cakrawala berpikir. Penguatan perspektif adalah kunci agar mahasiswa mampu merespons tantangan zaman secara kritis dan solutif,” ungkap Prof. Siti.
Kemeriahan acara semakin berbobot dengan kehadiran Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jawa Timur, Deni Wicaksono, S.Sos. Ia mengapresiasi langkah UM yang berani membuka ruang dialog politik sehat bagi kaum muda di lingkungan akademis.
“Dunia akademik harus tetap objektif dan berpihak pada rakyat. Itulah kekuatan utama kampus,” ujar Deni. Ia juga berpesan kepada para digital native agar tidak menunggu jabatan untuk mulai memimpin, melainkan memulainya dari kemampuan memimpin diri sendiri secara strategis.
Ketua Pelaksana, Rizkiyana Prihatiningtyas, berharap kegiatan ini menjadi pemantik semangat jangka panjang. Dengan kolaborasi antara akademisi dan praktisi, UM berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi memiliki karakter baja yang siap “mengguncang” dunia.
Melalui Kuliah Kebangsaan ini, Universitas Negeri Malang mengirimkan pesan tegas kepada publik: masa depan Indonesia berada di tangan mereka yang berani berinovasi, memimpin dengan logika, dan bergerak dengan hati. (*)
