Kolaborasi di Atas Kompor, SDK Santo Yusup 3

IDEA JATIM, MALANG – ​Hari Sabtu lalu, di SDK Santo Yusup 3 Malang mendadak berubah. Riuh. Asap mengepul di mana-mana. Aroma masakan menusuk hidung.

​Hari itu tidak ada buku pelajaran. Tidak ada ujian. Asesmen baru saja selesai. Pihak kesiswaan punya cara jitu untuk mengisi waktu jeda: Cooking Class. Kelas memasak.

​Ini yang pertama. Perdana.

​Hebatnya, sekolah tidak perlu menyewa koki hotel berbintang. Modalnya cuma satu: kolaborasi. Sekolah menggandeng paguyuban orang tua siswa. Merekalah yang jadi bintang utamanya. Orang tua turun gunung, ambil alih peran guru, menjadi tutor memasak.

​Konsepnya matang. Kesiswaan mengundang paguyuban, berdiskusi, lalu menentukan menu. Semua harus pas. Terutama soal keselamatan anak.

​Maka, pembagian menunya disesuaikan dengan umur. Berdasarkan grade.
​Anak-anak kelas 3, misalnya. Tentu terlalu berisiko kalau langsung memegang wajan panas. Maka menunya dipilih yang paling aman: membuat healthy sandwich dan dessert Oreo cup. Minim risiko, tapi tetap melatih kreativitas.

​Nah, begitu naik ke kelas yang lebih tinggi, tantangannya ditambah.
​Siswa kelas 4 sudah mulai berani berhadapan dengan kompor. Menunya chicken katsu dan es buah. Ayamnya sudah dimarinasi dari rumah—untuk efisiensi waktu. Di sekolah, anak-anak sendiri yang membaluri tepung, lalu menggorengnya di atas wajan berlemak minyak panas. Mereka membalik katsu itu sendiri. Berani.

​Kelas 5 tidak kalah seru. Mereka membuat banana roll ditemani es kuwut yang segar.

​Puncaknya di kelas 6. Ini kelas paling senior di SD. Menunya pun paling berat: memasak bakmi komplit beserta kondimennya yang rumit. Bumbunya banyak, prosesnya panjang. Tapi mereka melaluinya dengan tawa.

​Ibu Agnes Jayanti Triastuti, S.Pd, Kepala Urusan Kesiswaan, tersenyum puas melihat dinamika itu. Targetnya jelas: mengajarkan life skill. Keterampilan hidup. Sesuatu yang kini mulai langka di rumah karena semua serba instan.

Sekolah ingin anak-anak bisa mandiri, minimal bisa memasak untuk diri sendiri di rumah nanti.

​Bukan hanya anak-anak yang belajar. Orang tua pun dapat panggung. Ibu
Anastasia Nanik Riyanti, S.Pd dari Humas sekolah menceritakan betapa antusiasnya para wali siswa. Saat pengurus paguyuban kekurangan tenaga, orang tua yang lain sukarela datang membantu. Mereka ikut repot, ikut berkeringat, tapi semuanya happy.

​Suasana paling magis terjadi di akhir acara. Saat makan bersama.
​Makanan yang dimasak sendiri, melelahkan, ternyata terasa jauh lebih nikmat. Anak-anak yang biasanya susah makan di rumah, hari itu makan dengan sangat lahap. Bersama teman-teman, di bawah tatapan bangga orang tua mereka.

​Sukses besar acara perdana ini membuat pihak sekolah langsung mengambil ancang-ancang. Tahun ajaran baru depan, kegiatan latihan keterampilan hidup seperti ini akan dirancang reguler. ​Tentu tidak melulu memasak. Banyak keterampilan hidup lain yang antre untuk diajarkan.

​Sebab, pendidikan sejati memang bukan hanya soal menghafal rumus di dalam kelas, tapi tentang bagaimana bertahan dan mandiri di kehidupan nyata. Dan SDK Santo Yusup 3 memulainya dari sebuah kegiatan cooking class di sekolah. (*)

- Advertisement - SPMB

Berita Terkini

Work From Cafe dan Kaburnya Batas antara Kerja dan Kehidupan Sosial

Dulu, orang datang ke kafe untuk menikmati kopi. Aktivitas...
spot_img
Berita Terkait