Pendidikan 28 April 2026 Oleh: Redaksi

Kartini TK Islam Sabilillah Malang 1: Bukan Sekadar Kebaya

IDEA JATIM, MALANG – ​Kartini. Kebaya. Sanggul.

​Itu sudah biasa. Sudah puluhan tahun kita merayakannya dengan cara yang sama. Anak-anak kecil kepanasan memakai bedak tebal, lalu berparade. Selesai.

​Tapi Sabtu lalu, di TK Islam Sabilillah Malang 1, saya melihat sesuatu yang beda. Judulnya mentereng: Gempita Kartini: The Spirit of Nusantara. Isinya? Lebih mentereng lagi. Mereka tidak hanya bicara soal kain batik, tapi soal nyali. Soal mimpi.

​Ada sosok di balik ini: Indi Diana Fakhriya. Dia ketua panitianya. Gelarnya S.Pd. Logikanya lurus. Diana sadar betul, anak usia dini jangan dijejali sejarah yang berat. Jangan dipaksa menghafal tahun-tahun yang membosankan.

​”Sesederhana meneladani semangat belajar,” katanya. Kalimatnya pendek, tapi maknanya dalam.

​Bagi Diana, Kartini adalah simbol keberanian. Berani sekolah, berani punya masa depan. Maka, metode yang dipilih pun cerdas: bercerita. Lewat cerita, sosok pahlawan tidak lagi terasa seperti patung kaku di museum, tapi seperti kawan yang mengajak berlari.

​Yang membuat saya kagum adalah keberanian sekolah ini masuk ke ranah teknologi. Di tingkat TK! Mereka tidak gagap zaman. Ada lomba fashion show luring, tapi ada juga lomba daring yang melibatkan orang tua.

​Lombanya unik. Bukan sekadar bergaya. Ada lomba storytelling bahasa Inggris. Dan yang paling saya suka: Podcast Ing Kromo.

​Bayangkan. Anak TK ber-podcast. Pakai bahasa Jawa halus. Inilah kolaborasi hebat antara literasi modern dengan akar budaya. “Peran orang tua sangat luar biasa,” puji Diana. Orang tua tidak lagi jadi penonton, tapi jadi mitra bicara. Mereka melatih anak berbahasa Jawa krama, sekaligus menyiapkan baju adat yang paling total.

​Saat sesi fashion show, suasana pecah. Anak-anak melenggang penuh percaya diri. Ada yang memakai baju adat Aceh, Jawa, hingga Papua. Mereka tampak cantik dan gagah. Tapi bagi Diana, ini bukan pameran baju. Ini simulasi kehidupan.

​”Anak-anak diajak berperan langsung menjadi sebuah ‘perbedaan’ itu sendiri,” jelasnya.

​Sulit menjelaskan konsep Bhinneka Tunggal Ika pada anak kecil. Teorinya rumit. Tapi dengan memakai baju yang berbeda-beda namun tetap satu panggung, anak-anak itu paham dengan sendirinya. Mereka berbeda, tapi tujuannya satu: melangkah maju.

​Guru di sana hanya menjadi fasilitator. Penunjuk arah. Bahwa setinggi apa pun impian mereka, mereka berangkat dari akar budaya yang sama.

​Itulah Kartini masa kini. Tidak harus selalu soal sanggul. Tapi soal bagaimana teknologi dan tradisi bisa berjalan beriringan untuk menjemput mimpi.

​TK Islam Sabilillah Malang 1 memang selalu punya cara untuk tampil beda. (*)