Pendidikan 07 Mei 2026 Oleh: Redaksi

Jurus Tripartit, SMAIS Mendunia

IDEA JATIM, MALANG – ​Saya selalu terpukau dengan angka. Terutama angka yang melonjak bukan karena kebetulan. Pekan ini, mata saya tertuju ke: SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School Sistem Pesantren. Kita sebut saja SMAIS.

​Coba perhatikan angka ini: 62,5 persen.

​Itu adalah persentase kelulusan siswa mereka di jalur SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi) tahun ini. Dari 48 siswa yang berhak ikut (eligible), 30 orang tembus perguruan tinggi negeri.

Tahun lalu? Masih di angka 41 persen.
Lonjakannya tidak main-main. Naik lebih dari 20 persen dalam setahun.

​Apa rahasianya? Saya pun mencari tahu. Ternyata kuncinya ada pada satu kata yang sering kita dengar tapi sulit dipraktikkan: Sinergi.

​Kepala Sekolahnya, Ani Rahmawati—biasa dipanggil Bu Rahma—punya jurus yang dia sebut “Program Tripartit”.

Isinya: Sekolah, siswa, dan orang tua harus “satu tarikan napas”.

​Di SMAIS, anak kelas 10 tidak dibiarkan mengalir begitu saja. Begitu masuk, mereka langsung dites psikologi minat dan bakat. Tidak cukup sampai di situ. Mereka wajib menyusun rencana kuliah. Bayangkan, anak baru lulus SMP sudah harus presentasi di depan orang tuanya: “Nanti saya mau jadi ini, kuliah di sini, jalurnya lewat sini.”

​”Sejak awal mereka harus tahu mau jadi apa,” kata Bu Rahma.

​Ada kontrak belajarnya. Ada pantauan rapor bulanan secara real-time via aplikasi. Begitu nilai ada yang “batuk” sedikit, intervensi langsung dilakukan.

Tidak menunggu akhir semester. Tidak menunggu nasi jadi bubur.

​Tapi, SMAIS rupanya tidak puas hanya jago kandang. Visi mereka agak ngeri-ngeri sedap: Membentuk pemimpin peradaban dunia. Maka, standar internasional pun dikuatkan. Siswa digembleng IELTS dengan target skor 6,5.

​Hasilnya? Nyata. Agustus lalu satu siswa dikirim ke Jepang. November, lima siswa “menyerbu” Eropa—Belanda, Belgia, Prancis, Jerman, hingga Swiss—untuk presentasi proyek kewirausahaan. Februari kemarin, giliran Korea yang dikunjungi.

​Bahkan, tiga siswanya sudah dipastikan kuliah di luar negeri. Ada yang di Sunway University dan Asia Pacific University (APU), Malaysia.

​Dulu, SMAIS ini ada di peringkat 500-an nasional. Sekarang? Sudah melesat masuk jajaran 100 besar sekolah elit versi Puspresnas. Koleksi medalinya pun sudah ratusan, baik internasional maupun nasional.

​Saya melihat SMAIS bukan sekadar boarding school atau sekolah asrama biasa. Ini adalah “laboratorium” manusia. Targetnya jelas: Enam profil lulusan. Harus agamis, Qur’ani, negarawan, saintis, multilingual, dan berprestasi.

​”Itu harga mati bagi kami,” tegas Bu Rahma.

​Kini, setelah sukses di PTN, mereka mulai mengincar sekolah kedinasan. Ada yang sudah tembus Pelayaran, ada yang sedang bertaruh di Universitas Pertahanan (UNHAN).

​Melihat progresnya, saya jadi berpikir: Kalau semua sekolah punya sistem “pengawalan” seketat dan seterukur ini, kita tidak perlu pusing memikirkan kualitas SDM Indonesia di masa depan.

Sekolah ​Sabilillah sudah membuktikannya dari Malang. Bahwa prestasi itu tidak datang dari langit. Ia datang dari sistem yang disiplin, data yang presisi, dan mimpi yang dipresentasikan sejak dini. (*)