IDEA JATIM, SINGAPURA – Lorong-lorong Westwood Primary School, Singapura, mendadak riuh oleh suara anak-anak yang fasih bertukar sapa dalam bahasa Inggris. Mereka adalah delegasi kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang 1 yang tengah menjalani program International Exposure 2026. Di sekolah unggulan tersebut, nyali para siswa diuji bukan melalui lembar kertas ujian, melainkan lewat interaksi nyata dengan teman sebaya mancanegara.
Program yang sebelumnya dikenal sebagai Immersion ini kini tampil dengan wajah baru yang lebih menantang. Jika tahun-tahun sebelumnya fokus utama hanya berada di Malaysia, tahun ini jangkauannya meluas hingga ke Singapura demi memberikan pengalaman di negara maju dengan intensitas penggunaan bahasa Inggris yang tinggi.
“Kami ingin anak-anak merasakan langsung bagaimana bahasa Inggris menjadi alat komunikasi utama. Di Singapura, mereka harus full speaking agar bisa bertahan dan berinteraksi,” ujar Waka Kesiswaan dan Humas SD Islam Sabilillah Malang 1, Devika Meiriza, S.Pd.
Untuk memacu keberanian tersebut, sekolah menerapkan strategi unik berupa sistem poin. Setiap siswa dibekali 100 poin saat berangkat, yang bisa bertambah jika mereka aktif berbicara bahasa Inggris atau berkurang jika kedapatan menggunakan bahasa Indonesia.
Devika mencatat adanya perubahan mentalitas yang luar biasa pada diri siswa selama perjalanan. “Sangat luar biasa melihat perkembangan mereka. Awalnya ada yang malu-malu, tapi karena tantangan poin ini, mereka jadi sangat kompetitif dan percaya diri untuk menyapa orang baru menggunakan bahasa Inggris,” tuturnya dengan bangga.
Pengalaman paling berkesan terjadi saat agenda sit-in di kelas, di mana siswa belajar langsung di Westwood Primary School Singapura dan Cempaka School Malaysia. Setiap siswa Sabilillah dipasangkan dengan seorang partner lokal untuk belajar dan berdiskusi bersama.
Revvy Fakhri Hakim, salah satu siswa, mengaku sangat terkesan dengan metode ini. “Menyenangkan sekali, semua berjalan dengan lancar. Kami mendapatkan panggung internasional di luar negeri dengan berkomunikasi Bahasa Inggris bersama siswa-siswa di Singapura dan Malaysia. Pengalaman ini membuat saya jadi lebih mandiri,” ucap Revvy.
Tak hanya soal akademik, misi budaya juga diusung dengan gagah melalui pementasan tarian tradisional dan storytelling “Ande-Ande Lumut” dalam bahasa Inggris. Aullyah Saffyah Pramudita, siswi lainnya, mengungkapkan rasa bangganya bisa tampil di panggung dunia.
“Tentu bangga bisa menampilkan seni budaya Tanah Air kita di luar negeri. Menjadi siswa Sekolah Sabilillah mengantarkan saya ke panggung internasional, dan ini benar-benar menjadi pengalaman yang berharga bagi kami,” ungkap Aullyah yang baru pertama kali melakukan perjalanan ke luar negeri ini.
Meski perjalanan ini memiliki tantangan fisik, seperti antrean panjang di imigrasi perbatasan Johor-Singapura, hal itu justru menjadi pelajaran berharga tentang kedisiplinan dan manajemen waktu.
Devika Meiriza menegaskan bahwa anak didiknya kini bukan sekadar pelajar, melainkan duta bangsa. “Anak-anak bukan hanya belajar budaya asing, tapi mereka juga menjadi duta bangsa yang memperkenalkan kekayaan Indonesia ke mata dunia,” pungkasnya. International Exposure 2026 akhirnya mencetak generasi yang siap beradaptasi dengan ritme masyarakat global yang cepat, disiplin, dan tanpa batas. (*)
