Logo IDEA JATIM
24/06/2026
EPAPER
ADAPTIVE EDUCATIVE INNOVATIVE
OPINI

GENERASI TOLERAN ATAU GENERASI TERPOLARISASI? KRISIS PENDIDIKAN DI TENGAH MENGUATNYA INTOLERANSI

Oleh :
Kepala SMA Nasional Malang dan Mahasiswa Magister Pendidikan Matematika UNIKAMA

Soni Syarifuddin, S.Pd.

Saat ini, kita sedang menghadapi sebuah paradoks dalam dunia pendidikan Indonesia. Di satu sisi, sekolah diharapkan menjadi ruang aman untuk membentuk karakter toleran. Namun, di sisi lain, data menunjukkan realitas yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri, sepanjang 2024 kasus kekerasan di satuan pendidikan melonjak lebih dari dua kali lipat, dari 285 menjadi 573 kasus, dengan sekitar 31 persen di antaranya merupakan perundungan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi peserta didik. Bahkan, situasi ini semakin mengkhawatirkan pada 2025. Data yang dihimpun dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia serta laporan pengawasan pendidikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia menunjukkan bahwa hingga November terdapat 601 kasus kekerasan di sekolah, melampaui tahun sebelumnya. Lebih tragis lagi, sekitar 26 anak dilaporkan meninggal dunia akibat perundungan. Ini bukan lagi persoalan “kenakalan remaja”, melainkan krisis kemanusiaan di ruang pendidikan yang seharusnya menjunjung tinggi nilai empati dan keberagaman.