IDEA JATIM, MALANG – Zaman sekarang ini, dunia seperti tidak ada sekatnya lagi. Antara kenyataan dan fatamorgana di layar HP sudah campur aduk. Anak-anak kita, terutama yang usia SMA, seperti sedang dikepung.
Musuhnya bukan lagi penjajah, tapi algoritma.
Banyak orang tua pusing tujuh keliling. Khawatir anak-anaknya kehilangan fokus. Gawai sudah jadi “tuhan” baru.
Tapi di Malang, ada sebuah oase yang menarik perhatian saya: SMA Islam Sabilillah (SMAIS) Boarding School.
Sistemnya pesantren. Tapi jangan bayangkan pesantren kuno yang kumuh. Ini laboratorium kemandirian.
Benteng karakter untuk Generasi Z yang katanya rapuh itu.
Kepala Sekolahnya, Ani Rahmawati, S.Pd., M.Pd, punya pandangan yang tajam. Bagi Rahma, sapaannya, masa SMA itu momentum last minute. Masa transisi krusial sebelum anak benar-benar “dilepas” ke rimba perguruan tinggi.
”Setelah lulus SMA, mereka akan berpisah dengan orang tua. Ada yang kuliah di luar kota, bahkan luar negeri,” kata Bu Rahma. Logikanya sederhana tapi telak: kalau tidak dibekali kemandirian sekarang, kapan lagi?
Di SMAIS, kemandirian bukan teori. Ia dipraktikkan 24 jam. Bagaimana disiplin waktu, bagaimana konsistensi ibadah tanpa harus dipelototi orang tua. Itulah “bekal” yang sebenarnya. Bukan sekadar nilai di ijazah.
Ada yang tanya: apa sekolah boarding tidak gagap teknologi?
Ini yang menarik. Di SMAIS, teknologi tidak dimusuhi, tapi dikelola. Siswa tetap akrab dengan laptop. Literasi digitalnya jalan. Tapi, penggunaan gawai dibatasi. Bukan dilarang buta, tapi diukur. Tujuannya satu: agar siswa punya kendali atas waktu mereka sendiri. Bukan waktu mereka yang dikendalikan oleh notifikasi WhatsApp atau TikTok.
Sisi emosionalnya juga dijaga. Saya terenyuh mendengar cerita saat UTBK kemarin. Guru-gurunya bukan cuma mengajar di kelas. Mereka turun ke lapangan. Survei lokasi ujian.
Memastikan siswanya nyaman. Ditambah lagi ritual istighosah rutin.
”Kami ingin memastikan anak tidak berjuang sendirian,” tambah Bu Ani. Di sana, guru dan orang tua seolah berangkulan dalam doa dan sujud yang sama.
Dan anda perlu tahu, SNBP tahun ini, persentase kelulusan SMAIS paling tinggi di Malang. Tembus 62,5 persen dari jumlah siswa yang eligible. Itu bukti bahwa Boarding School tidak kalah. Bahkan unggul.
Hebatnya lagi, pesona karakter santri SMAIS ini sampai ke luar negeri. April 2026 lalu, rombongan dari Attarkiah Islamiah Institute, Thailand, datang berkunjung. Mereka ikut program student exchange.
Apa yang membuat orang Thailand itu melongo? Bukan gedung sekolahnya yang megah. Tapi ritme hidup di ma’had.
Mereka kaget melihat anak-anak muda itu bangun tengah malam untuk salat. Subuh berjamaah. Tadarus. Bahkan mereka heran melihat siswa-siswa itu cekatan membersihkan kamar sendiri.
Nilai-nilai pesantren ternyata universal. Kedisiplinan itu bahasa dunia.
Kemarin kita merayakan Hardiknas. Temanya gagah: “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
Bagi Bu Rahma, Hardiknas bukan sekadar upacara pakai baju adat. Ini momen refleksi. Apakah pendidikan kita sudah berhasil membentuk akhlak? Atau cuma mencetak “mesin” yang pintar berhitung tapi kosong hatinya?
Di bawah naungan Ma’had Sabilillah, “Partisipasi Semesta” itu wujud nyata. Guru, pembina, hingga lingkungan asrama menjadi “semesta kecil” yang menempa santri.
Pendidikan bermutu itu bukan soal angka-angka mahal. Tapi soal karakter unggul. Soal bagaimana menciptakan manusia yang berdaya saing, tapi tetap punya “rem” berupa akhlak.
Tradisi dan teknologi ternyata bisa berjalan beriringan. Di Malang, SMAIS sudah membuktikannya. Ma’had bukan lagi tempat untuk “membuang” anak nakal, tapi kawah candradimuka bagi pemimpin masa depan.
Itulah esensi pendidikan yang sesungguhnya. Mencetak manusia utuh. Bukan sekadar manusia pintar. Karena di masa depan, kepintaran tanpa akhlak hanya akan membuat dunia semakin kacau.
SMAIS hebat. Saya kagum!.
