

IDEA JATIM, MALANG – Hampir setiap pekan, paspor milik Umar Faruq tak pernah absen dari stempel imigrasi. Mulai dari megahnya Tembok Besar Tiongkok, eksotisme Thailand, hingga debu suci di pelataran Ka’bah, Arab Saudi, telah menjadi "kantor" sehari-harinya.
Namun, bagi alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, perjalanannya bukan sekadar soal gaya hidup nomaden, melainkan tentang dedikasi dan bahasa yang ia pelajari dengan hati.
Umar adalah bukti nyata bahwa bahasa bukan sekadar deretan kata, melainkan kunci pembuka pintu dunia. Sebagai lulusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) angkatan 2016, pemuda asal Bekasi ini kini memikul tanggung jawab besar sebagai tour leader profesional yang mengawal para "tamu Allah" menjalankan ibadah umrah dan haji.
Mengingat masa kuliahnya, Umar tersenyum saat mengenang mata kuliah Bahasa Arab Amiyah (bahasa pasaran/sehari-hari). Siapa sangka, teori yang ia pelajari di ruang kelas Malang kini menjadi "senjata utama" saat ia harus bernegosiasi dengan pedagang di pasar Madinah atau membantu jamaah yang kesulitan berkomunikasi dengan warga lokal.