IDEA JATIM, MALANG – Sabtu lalu. 2 Mei 2026. SD Insan Amanah heboh. Bukan karena demo. Bukan karena masalah. Tapi karena anak-anak kecil itu. Anak kelas 1, 2, dan 3.
​Mereka sedang pameran. Namanya mentereng: Science and Art Project Expo.
​Jangan bayangkan pameran pajangan. Ini pameran nyali. Pameran nalar. Biasanya, bagi rapor itu membosankan. Orang tua datang. Ambil kertas. Tanya nilai. Pulang. Selesai.
​Di sini tidak. Guru “pensiun” jadi juru bicara. Peran itu diambil alih siswa. Mereka sendiri yang melapor ke orang tua. Pakai presentasi. Pakai data. Pakai keberanian.
​Kepala Sekolahnya, Dr. Suhardini Nurhayati, M.Pd., punya visi kuat. Beliau tidak ingin anak-anak hanya jadi penghafal. Dia ingin mereka jadi ilmuwan sejak dini. “Setiap anak punya keistimewaan. Tidak ada ciptaan Allah yang gagal,” katanya. Kalimat ini dalam. Sangat dalam.
​Metodenya canggih: STEAMS. Ada Science, Technology, Engineering, Art, Mathematic dan Spiritual. Otak kiri diasah lewat logika. Otak kanan lewat seni. Dan hati? Lewat nilai Islam sebagai fondasi.
​Fokusnya adalah habitat berpikir. Ada enam tahap. Mulai observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pelaksanaan eksperimen, analisis data, hingga penarikan kesimpulan. Anak-anak ini dilatih tidak mudah percaya hoaks. Sejak kecil sudah diajari objektif.
​Hasilnya? Luar biasa.
​Ada ensiklopedia buatan sendiri. Bukan beli di toko buku. Isinya riset mereka. Tentang botani. Tentang zoologi. Anak kelas kecil menggambar sendiri proses kecambah tumbuh. Detail. Visual. Orisinal.
​Tahun ini tantangannya dinaikkan. Harus presentasi individu. Satu per satu. Tidak boleh nebeng teman. Harus tanggung jawab pada proyeknya sendiri. “Potensi anak seringkali baru muncul saat diberi tantangan nyata,” ujar Suhardini.
​Tujuannya jelas. Melatih keberanian. Mencegah rasa rendah diri. Di SD Insan Amanah, semua anak harus punya panggung. Sama rata.
​Kurikulumnya pun dimodifikasi. Suhardini tidak mau kaku pada kurikulum nasional. Dia ambil fleksibilitasnya. Dia fokus pada kompetensi. Bukan cuma kejar setoran materi. Pendidikan masa lalu yang hanya hafalan dibuang jauh-jauh.
​Ukurannya ada tiga: Cara berpikir sistematis, kemampuan public speaking, dan rasa percaya diri.
​Sabtu itu, saya melihat masa depan. Masa depan yang tidak hanya pintar bicara, tapi bicara dengan data. Logikanya tajam, tapi imannya kokoh.
​Habis kelas bawah, giliran kelas 4 dan 5 akan menyusul.
​Hebat. SD Insan Amanah tahu cara “memaksa” anak menjadi hebat. Tanpa harus merasa terpaksa. Mereka hanya butuh sedikit dorongan. Dan panggung yang tepat.
​Itulah pendidikan yang sebenarnya. (*)
