IDEA JATIM, MALANG – Guna melatih rasa percaya diri dan kemampuan berbicara di depan umum sejak dini, SDK Kolese Santo Yusup (Kosayu) 3 Malang kembali menggelar agenda tahunan Presentasi Ko-Kurikuler di akhir tahun ajaran 2026. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari sejak Rabu 3 Juni lalu ini, mewajibkan para siswa memaparkan hasil kedalaman materi yang telah mereka pelajari secara berkelompok di hadapan guru dan orang tua.
Kepala Urusan Humas SDK Kosayu 3 Malang, Anastasia Nanik Riyanti, S.Pd menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari konsep presentasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang dulu pernah diterapkan. Pihak sekolah menilai metode ini sangat efektif dalam memberikan pengalaman langsung bagi siswa untuk berani tampil di depan publik.

”Kami melihat kegiatan ini sangat baik untuk memberikan pengalaman pada siswa; belajar untuk berbicara di depan orang tua serta memupuk rasa percaya diri mereka,” ujar Nanik saat diwawancarai pada Selasa (9/6/2026).
Persiapan presentasi ini dikemas dalam bentuk “Pekan Ko-Kurikuler” selama satu minggu penuh sebelum masa ujian dimulai. Sepanjang pekan tersebut, aktivitas belajar mengajar reguler ditiadakan agar siswa fokus berdinamika di dalam kelompoknya. Tema besar ditentukan oleh pihak sekolah, sementara materi spesifik diturunkan oleh wali kelas masing-masing berdasarkan muatan pelajaran.
Menariknya, materi yang dipresentasikan juga dikaitkan dengan program “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Salah satu contoh kreativitas siswa terlihat saat mereka mempelajari keragaman suku di Indonesia. Agar tidak jenuh menghafal, siswa mengubah lirik lagu daerah atau menggunakan nada jingle populer—seperti Jingle 75 Tahun Kosayu—yang digubah dengan materi edukatif tentang kebudayaan daerah seperti Papua dan Sumatera.
Sementara itu, Kepala Urusan Kesiswaan SDK Kosayu 3 Agnes Jayanti Triastuti, S.Pd menambahkan bahwa proses dinamika kelompok ini sarat akan penanaman nilai karakter. Meski masih di tingkat sekolah dasar, siswa diajak untuk saling menghargai pendapat, mendengarkan teman, dan disiplin membagi waktu.
Format presentasi pun dibuat interaktif dengan adanya sesi tanya jawab di akhir pemaparan. Orang tua siswa dan teman sekelas yang hadir diberikan kesempatan untuk bertanya langsung kepada kelompok yang tampil.
Agnes menegaskan bahwa kehadiran orang tua dalam acara ini memiliki urgensi yang sangat besar sebagai bentuk apresiasi tertinggi bagi usaha buah hati mereka.
”Kedatangan orang tua adalah bentuk penghargaan nyata. Anak-anak merasa bangga dan dihargai saat mereka berbicara dan dilihat langsung oleh orang tua mereka serta orang tua lainnya,” pungkas Agnes. (*)





