SURABAYA, IDEAJATIM.ID – Lebih dari 486 ribu santri di Jawa Timur dibayangi beragam ancaman bencana. Untuk menjawab tantangan ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama para pemangku kepentingan kebencanaan dan kepesantrenan meluncurkan pengembangan Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA) yakni inisiatif untuk memperkuat kesiapsiagaan ribuan pesantren dan melindungi warga dari risiko bencana.
Upaya kolaboratif ini digagas oleh Pemprov Jawa Timur melalui Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, serta didukung oleh Program SIAP SIAGA Jawa Timur.
Sebagai salah satu provinsi dengan jumlah pesantren terbesar di Indonesia, Jawa Timur memiliki sekitar 7.425 pondok pesantren, dengan lebih dari 36 ribu tenaga pendidik yang tersebar di berbagai wilayah. Posisi ini menjadikan pesantren bukan hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat yang perlu dilindungi secara lebih sistematis dan terarah.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kejadian bencana menunjukkan bahwa pesantren merupakan salah satu termasuk kelompok yang terdampak. Erupsi Gunung Semeru pada 2021, misalnya, berdampak pada sejumlah pesantren di Lumajang. Selain itu, banjir, cuaca ekstrem, dan kerusakan bangunan juga kerap mengganggu kegiatan belajar mengajar dan membahayakan keselamatan para santri.