IDEA JATIM, MALANG — Mentari Minggu pagi perlahan menghangatkan ruas Jalan Pisang Kipas di Kampung Magetan, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Jalan yang sehari-hari menjadi akses lalu lintas warga itu berubah menjadi ruang kebersamaan. Tikar-tikar digelar memanjang, aneka hidangan tersusun rapi, sementara warga datang silih berganti membawa makanan dari rumah masing-masing. Suasana yang hangat dan penuh keakraban itu menjadi penanda berlangsungnya Tradisi Bari'an, sebuah selamatan kampung yang menutup rangkaian Bulan Muharram atau Bulan Suro dalam tradisi masyarakat Jawa.
Bagi masyarakat Kampung Magetan, Bulan Suro bukan sekadar pergantian penanggalan dalam kalender Jawa maupun Hijriah. Bulan ini dimaknai sebagai momentum perenungan, introspeksi, sekaligus memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan. Karena itu, penutup Bulan Suro tidak dilewati begitu saja, melainkan dirayakan melalui Bari'an, sebuah tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai wujud rasa syukur, doa bersama, dan penghormatan kepada para leluhur.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan tahlil dan doa bersama yang dipanjatkan untuk para pendahulu kampung. Doa-doa tersebut menjadi ungkapan syukur kepada Allah SWT sekaligus penghormatan kepada mereka yang telah membangun kehidupan, menanamkan nilai-nilai kebajikan, dan mewariskan semangat hidup bermasyarakat kepada generasi penerus. Setelah doa bersama, seluruh warga menikmati hidangan yang dibawa secara gotong royong sebagai simbol berbagi rezeki, mempererat persaudaraan, dan memperkuat ikatan sosial.