Logo IDEA JATIM
01/07/2026
EPAPER
ADAPTIVE EDUCATIVE INNOVATIVE
OPINI

Gen Z di Bangku SMP Kota Malang: Menimbang Tekanan Akademik dan Urgensi Kesehatan Mental di Era Kurikulum Merdeka

Fase Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan periode krusial dalam kehidupan seseorang. Di sinilah masa transisi dari anak-anak menuju remaja terjadi, ditandai dengan perubahan fisik, lonjakan hormon, serta tantangan emosional dan sosial yang signifikan. Bagi Generasi Z yang saat ini mengisi bangku SMP, tekanan yang mereka hadapi tidak lagi sederhana. Mereka harus berhadapan dengan tuntutan akademik yang tinggi, persaingan masuk sekolah favorit, ekspektasi orang tua, serta dinamika sosial kompleks, termasuk risiko perundungan.

Kota Malang, yang dikenal sebagai kota pendidikan, justru menyimpan ironi tersendiri. Di tengah gencarnya promosi sebagai pusat pendidikan berkualitas, data menunjukkan bahwa kasus perundungan di Kota Malang meningkat dari enam kasus pada 2024 menjadi delapan kasus sepanjang 2025. Lebih memprihatinkan lagi, mayoritas korban berasal dari jenjang SMP (Surya Malang, 2025). Angka ini mungkin terlihat kecil, tetapi setiap kasus mewakili satu atau lebih anak muda yang mengalami tekanan psikologis berat. Bahkan, beberapa di antaranya harus dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa karena trauma berkepanjangan.

Persoalan utama yang dihadapi siswa SMP saat ini adalah sistem pendidikan yang masih sangat berorientasi pada nilai akademik. Meskipun Kurikulum Merdeka telah digulirkan dengan semangat memberikan fleksibilitas dan kebebasan belajar, implementasinya di lapangan belum sepenuhnya berhasil menggeser paradigma lama. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Teguh Sumarno, menilai bahwa transisi dari kurikulum sebelumnya menuju Kurikulum Merdeka belum efektif. Ia menyatakan bahwa meskipun Kurikulum Merdeka menawarkan fleksibilitas, materi dasar tetap perlu menjadi prioritas (PGRI.or.id, 2024).